Pages

Saturday, October 24, 2015

Blogging Again!!!

It's been a very long time I didn't update my blog since I was in college. Four years, yes, four years. So many things happened, ups and down. From my first working to being student again.

For now on, I'll try my best to update this blog. I'll write anything, particularly my traveling experience. My past traveling might not be posted or even so, will be not in chronological order. So, stay tuned!

Wednesday, October 21, 2015

Sanghyang Heuleut, Laguna Tempat Bidadari Membasuh Peluh

Hello weekenders, 

Pernah denger tempat (wisata) yang lagi ngehitz bernama Sanghyang Heuleut?

Yap, beberapa waktu lalu gw ke sana. Sebenernya pertama kali denger Sanghyang Heuleut dari temen Couchsurfing Bandung yang suka explore tempat tempat unik di Bandung. Karena penasaran, gw kepoin foto-foto di sana. Makin membuncah lah hasrat gw untuk meng-explore Sanghyang Heuleut. Tapi eh tapi kalo sendirian mager, ngajak temen sepermainan, pada gak bisa. Akhirnya hasrat itu dipendam dulu sampai nemu momen yang pas. 

And, the right moment came. Randomly, group whatsApp trip ke Ciletuh juga berencana ke sana. Sabtu, 17 October 20115 kami bersepuluh pergi untuk mengexplore Sanghyang Heuleut. Dirangkum dari pengalaman pribadi dan beberapa sumber, berikut info dan legenda seputar Sanghyang Heulueut

Sanghyang Heuleut berada di kawasan PLTA Saguling, Raja Mandala, Cipatat, Bandung Barat. Patokan yang paling mudah adalah PLTA Saguling. Rute untuk mencapai lokasi ini jika dari arah Kota Bandung adalah : Kota Bandung – Kota Cimahi – Padalarang –  Jalan Raya Padalarang – Raja Mandala – Pintu gerbang PLTA Saguling. Jika lewat toll, bisa exit toll Padalarang  dan terus lanjut Jalan Raya Padalarang – Raja Mandala – Pintu gerbang PLTA Saguling.

Rumor has it, warga sekitar di kawasan Saguling bahwa Sanghyang Heuleut ini dahulu sering dikunjungi oleh para bidadari jika ingin mandi dan turun dengan menggunakan pelangi yang sangat indah warnanya. Dan tempat ini pula yang dipercayai sebagai tempat Dayang Sumbi, ibu dari Sangkuriang untuk mengambil air minum, mandi dan mencuci pakaian miliknya. Mungkin dari legenda inilah nama Sanghyang Heuleut berasal. Jika diartikan kata per kata, “Sanghyang” memiliki arti sebagai “tempat yang suci”, sedangkan “Heuleut” memiliki arti “selang antara dua waktu”.

Secara geologis, Danau Sanghyang Heuleut ini danau purba yang diperkirakan terbentuk dari hasil letusan Gunung Api Purba yang bernama Gunung Sunda.  Hal itu dibuktikan dengan banyaknya terdapat bebatuan besar di sekitaran danau. Danau ini terselamatkan dengan hadirnya bendungan Saguling yang masih menjadi sumber air dari Danau Sanghyang Heuleut ini.

Untuk mencapai lokasi Danau Sanghyang Heuleut ini diperlukan extra usaha karena akses jalan yang cukup sulit dengan menyusuri sungai dengan bebatuan yang besar, serta harus melewati hutan yang cukup lebat. Pengunjung harus dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 3-4 km atau sekitar 1-2 jam trekking.  Saat kami ke sana, warga sekitar sudah menyiapkan lahan untuk tempat parkir pengunjung. Pengunjung dikenakan tarif retribusi parkir 5 ribu  untuk sepada motor dan 10 ribu untuk mobil.

Dari area parkir, berjalan ke lokasi PLTA Saguling yang terdapat pipa raksasa, lalu trekking ke arah hutan dan berjalan melawan arus sungai. Disarankan memakai sandal gunung atau sepatu waterproof demi kenyamanan selama perjalanan. Perjalanan kurang lebih sekitar 1 Km dan di ujung akan menemukan sebuah gunung kecil yang terdapat gua Sanghyang Poek. Menurut warga, gua Sanghyang Poek ini juga tempat bersemedi. Di dalamnya terdapat dua jalan, yang satu akan kembali ke tempat semula, sementara yang satu lagi entah nembus ke mana karena dianggap tak berujung. Dari Gua Sanghyang Poek lanjutkan perjalanan melawan arus sungai sekitar 2 Km. Danau Sanghyang Heuleut ini berada di ujung sungai Sanghyang Poek.

Sanghyang Poek


Explorer - Sanghyang Poek


Laguna cantik berwarna kehijauan di tengah hutan yang dikelilingi bebatuan besar. Some people call it 'a piece of paradise'. Perjalanan jauh terbayar dengan keindahan danau dan pemandangan di sekitar. Bagi yang tidak bisa berenang, dilarang keras bermain sampai ke tengah karena cukup dalam. Sementara, bagi yang bernyali dan hobi memacu adrenalin, bisa loncat dari bebatuan di pinggir danau. Terdapat beberapa level ketinggian bebatuan yang menarik untuk dicoba. Sekali lagi, sangat tidak disarankan bagi yang tidak bisa berenang.

The lagoon where the angels bathed

  
Surounded by massive rocks 

Strike a pose!

The lagoon


Ready to jump


Jumping off the stone


Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa lokasi Sanghyang Heuleut yang sebenarnya masih jauh. Lokasi yang sekarang dikenal sebagai Sanghyang Heuleut , sebenarnya adalah Sanghyang Gobang. Untuk mencapai Sanghyang Heuleut, masih harus lanjut berjalan 3-4 jam lagi dari lokasi danau. Karena itulah, Sanghyang Heuleut yang ‘asli’ masih belum banyak terjamah dan masih sangat alami. Tidak banyak yang berani ke sana karena medan yang sangat sulit.

Jika ke sana,jangan pernah mencorat-coret bebatuan dan jangan lupa bawa kembali sampah yang kamu bawa. Stop vandalism and littering and keep it clean. Tak dapat dipungkiri, ramainya postingan foto-foto Sanghyang Heuleut di sosial media menjadi magnet para traveler untuk datang langsung ke sana. Namun, sayangnya tidak semua traveler punya kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.

I don't recommend you to visit it, but if you're interested in, it’s really worth visiting. Think about the location, your physical condition and the way to get there. If nothing matters you, what are you waiting for??? grab you backpack and go! :p


Never stop exploring nature and be a wise traveler. 

Tuesday, August 25, 2015

CS Bandung Trip: Stone Garden & Goa Pawon

Hello fellas,

Jadi ceritanya Gw  udah lama pengen banget ke Stone Garden. Sebenernya lumayan deket, masih di daerah Padalarang, Bandung Barat. But, the problem is, kalo cuma sendiri atau berdua doang bareng trip mate gw si Rini, kok agak agak mager yah.

Out of nowhere, lagi iseng buka web, nemu event di Couch Surfing yang mau ngadain trip ke Stone Garden dan Goa Pawon. Pucuk dicinta ulam pun tiba, langsung join lah gw dan ngajak Rini. Sempet bingung antara mau ngangkot dari Bandung dan ketemu CS Bandung atau bawa motor sendiri terus ketemu di TKP. Akhirya dengan pertimbangan efisiensi, kami bawa motor supaya lebih praktis,

My very first trip with CS Bandung members started on August 24. Sempat nyasar lumayan jauh dari gerbang masuk Stone Graden, akhirnya kami sampai juga di lokasi. Rupanya CS Bandung sudah sampe dari tadi dan sudah di atas. Berikut ini penampakan Stone Garden Geopark.







Sorry, gak terlalu banyak ngambil foto, cuma modal kamera hp soalnya. Kami pun berkenalan dengan CS Bandung yang ikut trip. Lupa ada berapa orang yang join sekatar 18 orang. 


After taking some photos, we continued our trip to Goa Pawon. Goa Pawon terlatek dibawah Stone Garden. Sebenarnya, pintu masuk ke Stone Garden dan Goa Pawon berbeda. Bila dari Stone Garden, hanya tinggal menuruni bukit. Jalan ke sana lumayan curam, so be careful guys. 






Setelah explore Stone Garden dan Goa Pawon, kami beristirahat. Tiba-tiba papa Roger (bule yang ikut trip) ngelihat keramain jauh di seberang sana. Saat itu masih susana perayaan kemerdekaan. Yang namanya bule, mereka tertarik banget untuk ngelihat suasana 'kampung'. Dari situ, kami memutuskan untuk 'menginvasi' kampung tersebut. 

It's out of our plan, but's the the art of a trip I guess. We barged in to the hamlet, but in a good way. Penduduk sana pada senang karena 'bule masuk kampung' :p. Dan tentu saja bule-bule jadi sasaran masyarakat buat diajak photo photo (It's ssooooooo Indonesian). Karena sedang ada perayaan Agustusan, kami diajak ikut lomba tarik tambang. Tentu saja para bule ini seneng. So everyone's happy. :) :)


Joe, Roger and Will joined the 'Thug' of War Games 

And the result??? of course we lost to the locals :D :D. It was fun and we really enjoyed the moment. Kami makan siang dan ngobrol-ngobrol di sana . Karena beda rombongan, kami pun pulang lebih dahulu, dan naik lagi ke atas bukit untuk ke parkiran motor. Ternyata Joe dan Nicole (tunangan Joe) sudah lebih dahulu naik. Kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati air kelapa muda. Joe dan Nicole bawa motor sendiri. They teach English at TBI Dago. It's nice to talk to them and they shared their experience in Couchsurfing. 

See you guys in the next trip :) :)